:: Esensi Kebodohan ::

“Bodoh kamu…!”- Mungkin kita hanya tersenyum ketika mendengar seseorang berteriak demikian kepada orang lain, atau mungkin kita tersenyum kecut ketika seseorang meneriaki kita demikian, bisa juga kita langsung marah-marah kepada orang yang berteriak demikian. Namun, sejujurnya, apakah kita tahu arti ‘bodoh’ atau ‘kebodohan’ itu sendiri? Apakah kita sudah dapat memaknai bodoh atau kebodohan itu sendiri?


Coba kita lakukan sebuah ujian kepada diri kita sendiri, tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah ada hal-hal yang tidak kita ketahui? Coba renungkan dan tanyakan kepada hati kecil kita, hal-hal apa saja yang telah kita ketahui sejauh ini? Mungkin sebagai seorang tukang buat program (baca: programmer), yang saya ketahui sampai saat ini adalah bagaimana membangun sebuah prosedur dari sebuah flowchart yang ada, yang dirancang oleh seorang desainer sistem (baca: design analyst). Mungkin juga, bagaimana cara menghubungkan sebuah sistem basis data dengan sebuah penghubung pengguna grafis, atau membuat sebuah program jual-beli sebuah swalayan. Tapi di luar itu semua, masih banyak hal-hal yang tidak saya ketahui, dan saya juga belum mengetahui apa saja hal-hal tersebut, tapi saya yakin bahwa programming tidak hanya terbatas pada hal-hal di atas. Begitu juga halnya dengan bidang-bidang yang lain, mungkin dalam hukum, jelas banyak yang saya tidak ketahui dalam bidang hukung, apalagi bidang kesehatan khususnya kedokteran.

Jawaban kita mungkin berbeda-beda tentang hal-hal yang tidak kita ketahui. Mungkin juga ada yang menjawab ‘saya tahu semuanya…’. Ada dua kemungkinan tentang hal itu, bisa jadi dia benar, dan bisa jadi dia memang demikian, maksudnya? Maksudnya adalah, bisa jadi dia mengetahui semua hal, termasuk yang tidak dia ketahui, dan bisa jadi dia memang mengetahui semua hal. Bingung? Tidak perlu bingung, sebenarnya sudah banyak buku yang membahas tentang hal ini. Beberapa di antaranya mengatakan : ‘Orang bodoh adalah orang yang tidak mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya’, ya, itu memang benar, di dunia ini hanya ada dua tipe manusia, bukan laki-laki atau perempuan, tapi tipe pertama adalah orang-orang yang tidak mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya, dan tipe kedua adalah orang-orang yang mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya. Perbandingan antara orang tipe pertama dan tipe kedua ini sangatlah jauh, hampir 95% orang di dunia ini adalah tipe pertama (data ini tidak saya dapatkan dengan survei, namun saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca, salah satunya adalah buku karangan….. hmmmm….. saya akui, saya lupa, mungkin berikutnya akan saya tuliskan, mohon maaf). Namun orang-orang tipe pertama inilah yang membantu orang-orang tipe kedua untuk mencapai apa yang diinginkannya (baca: mencapai sukses). Dapat saya katakan, Henry Ford contohnya, beliau adalah bapak industri mobil dunia, di usia mudanya, beliau adalah seorang petani, namun beliau tidak puas dengan keadaannya saat itu, beliau tahu bahwa ada hal-hal yang tidak diketahuinya, selain dalam bidang pertanian, beliau akhirnya mencoba bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik mobil, selain itu beliau juga memperbaiki jam tangan pada malam harinya. Kemudian beliau juga sempat bekerja di sebuah pabrik pembuatan kapal, namun beliau dengan rasa ingin tahu yang besar terus menerus memikirkan industri yang dapat mengubah sejarah. Beliau akhirnya mengambil balap mobil sebagai awal dari industrinya. Pernah beliau diuji oleh seorang kawan beliau, beliau diberi pertanyaan tentang berbagi hal, mulai dari sejarah Amerika, sampai sejarah dunia, mulai dari matematika sampai ilmu ekonomi, namun hampir semua pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh beliau, namun beliau menjawab, ‘saya tidak mengetahui jawabannya, namun saya dapat mencari orang yang mengetahui jawabannya’.

Apa hikmah yang dapat kita ambil? Yang pertama, Henry Ford adalah orang tipe kedua, namun beliau dapat menjadi sukses memimpin industrinya dengan mengumpulkan orang-orang tipe pertama. Beliau bahkan mengakui dengan lapang dada bahwa beliau tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kawan beliau tersebut, seharusnya kita mencontoh sikap ini. Namun beliau juga dapat mencari solusi dari masalah itu, yaitu mencari orang-orang yang mengetahui jawabannya. Kita perlu meniru sikap yang sangat bersahaja ini, kita perlu mengakui apa yang tidak kita ketahui, kita juga harus mengakui semua kekurangan kita, namun kita harus memikirkan solusi atas kekurangan kita.
Kita jangan pernah takut atau kecewa jika dikatakan bodoh oleh orang lain, namun berterima kasihlah, karena kita telah diberi tahu kekurangan kita, dan ini berarti kita telah mengetahui satu hal baru lagi. Sekarang kita tinggal pilih, kita mau menjadi orang tipe pertama yang tidak mengetahui apa yang tidak kita ketahui atau menjadi orang tipe kedua, yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui.