:: Anger Management ::

Dahulu ada seorang anak yang suka marah-marah dalam arti kata tak pandai mengendalikan emosi. Pokoknya MARAH itulah kamus sehari-harinya, padahal orangtuanya adalah orang yg bijaksana & penyabar.

Suatu hari oleh Bapaknya yang sangat bijak itu, anak tersebut dinasehati dan disarankan setiap kali anak tersebut marah, agar memakukan sebuah paku di pagar halaman rumahnya.

Dalam sehari banyak sekali paku nempel di pagar rumahnya. Hingga dalam sebulan sudah banyak sekali paku paku tersebut nempel di situ.

Anaknya berkata kepada ayahnya, “Pak, saya sudah mengerjakannya dengan baik”.
Ayahnya kembali berkata, “Wahai anakku, mulai saat ini. Jika kamu bisa menahan amarahmu maka cabutlah satu paku di pagar tersebut”.

Hari berganti hari, ternyata anak itu merasa lebih gampang menahan amarahnya daripada memaku di pagar rumahnya. Lama-lama paku tersebut mulai berkurang dan berkurang terus sampai paku tersebut hilang sama sekali.
Dan anak itupun berkata, “Pak ternyata saya sudah bisa menahan amarah saya”.
Sang bapak pun berkata, “Wahai anakku memang kamu sudah bisa menahan amarahmu, tapi lihatlah kayu-kayu itu berlubang akibat paku tersebut. Demikian juga manusia yang pernah tersinggung dan terluka disaat menerima amarahmu, takkan hilang begitu saja kan? Nah mulai saat ini berhati-hatilah bicara… anakku…”

Jangan pernah putus asa dan menyerah. Karena apabila anda tidak pernah menyerah, berarti anda tidak pernah kalah. (Ted Turner, pendiri Turner Broadcasting System).

CATATAN: Ted Turner memulai membangun istananya dari bisnis papan reklame. Dia menggunakannya untuk membeli stasiun TV yang sedang menurun dan mengubahnya menjadi sangat sukses. Hasilnya dia belikan Atlanta Braves, memulai CNN dan mengambil alih MGM.

NB:
Kisah ini bisa anda terapkan dalam hidup anda paling tidak sedikit membantu anda dalam mengendalikan emosi. Jika anda merasakan hikmahnya beritahukan kepada yang lain. Beritahukan pada yang lain itulah inti sebuah ajaran. Kalau sekiranya selama ini saya pernah marah kepada anda, mohon dimaafkan, karena saya juga sedang belajar bagaimana menahan emosi dan membuang jauh rasa marah.