BlogMood v.4.0.0

  • Vercel Alternatives—For Personal and Hobbyist

    This document will be updated every time.

    First, I will enlist what I have found for Vercel alternatives.

    Here is the list:

    1. Coolify https://coolify.io/pricing
    2. Dokku
    3. Kamal
    4. CapRover
    5. https://dokploy.com/pricing
    6. https://render.com/pricing
    7. https://www.netlify.com/pricing/
    8. https://railway.com/pricing
    9. https://replit.com/~

  • Studi Doktoral dan menulis

    Membaca dan menulis, keduanya adalah kegiatan yang telah dilakukan manusia sejak dulu. Tulisan tertua yang tercatat dan diketahui adalah Tablet Kish (the Kish Tablet) yang berusia sekitar 3500-3200 sebelum masehi. Tablet Kish berisikan pictograph, gambar-gambar yang merumuskan sesuatu. Saat itu, kemungkinan sebagai salah satu cara paling mungkin untuk mencatat atau menuliskan sesuatu. Tulisan tersebut dicetak (dalam hal ini dipahat) di atas sebuah benda yang cukup mudah dipahat namun sulit untuk berubah. Beberapa contohnya adalah batu kapur, tanah liat, kayu, atau pualam.

    Dengan ditemukannya kertas oleh bangsa Cina, sekitar tahun 105 masehi, kegiatan menulis menjadi lebih mudah. Bahkan setelah penemuan mesin cetak oleh Gutenberg di abad 15 masehi, tulisan menjadi semakin cepat untuk diakses. Di sinilah titik balik penyebaran informasi secara massal. Buku-buku mulai diperjual-belikan dengan mudah. Industri media cetak berkembang.

    Memasuki abad 20 masehi, perkembangan perangkat elektronik mendukung juga kegiatan menulis ini. Personal Computer (PC) membuat siapa saja lebih mudah untuk menulis, dibandingkan dengan mesin ketik yang sebelumnya juga mempermudah seseorang untuk mencetak dokumen. Jadi sebenarnya kegiatan menulis adalah kegiatan yang sudah sangat purba.

    Membaca dan menulis di masa modern ini menandakan titik awal dari seseorang untuk memasuki apa yang disebut dengan kehidupan bermasyarakat. Di Indonesia sendiri, membaca bahkan disarankan agar diajarkan sebelum seorang anak mulai belajar secara resmi di sebuah sekolah. Ini sebabnya banyak bermunculan lembaga-lemabga kursus membaca dan menulis untuk anak usia dini, di mana mereka masih senang berpetualang dengan lingkungannya, alih-alih duduk diam memperhatikan goresan-goresan huruf. Setelah itu, kegiatan membaca dan menulis akan dilakukan setiap harinya. Menulis mungkin dilakukan sedikit lebih jarang dibandingkan kegiatan membaca, karena menulis membutuhkan lebih banyak hal dibandingkan membaca. Contohnya tulisan ini, saya membutuhkan laptop, peramban web, listrik, waktu, dan tenaga untuk dapat menuliiskannya. Sementara untuk membaca kita dapat lakukan di mana saja dan kapan saja; di jalan ketika anda berjalan ke warung, di supermarket, di ruang tunggu (jika masih ada yang menyediakan surat kabar), di sekolah, di perpustakaan, di layar gawai anda, bahkan di layar kaca (jika masih ada yang memperhatikan siaran tertentu).

    Mula dari jenjang usia dini, TK, SD, SMP, SMA hingga pendidikan Strata-3, kita akan tetap melakukan kegiatan tersebut, membaca dan menulis. Kenapa membaca dan menulis? karena kita hanya akan bisa menulis ketika kita sudah membaca. Iqra’ dan uktub. Dengan membaca kita akan memaknai sesuatu, memahami sebuah konsep, mengerti susunan langkah-langkah, mengetahui informasi dan fakta; sementara dengan menulis kita akan menuangkan pikiran kita, lebih memahami jalannya suatu posedur, merumuskan konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkrit, dan dapat menggambarkan informasi dan fakta dengan lebih akurat.

    Tidak lepas juga dalam menempuh jenjang pendidikan Strata-3 atau doktoral. Di tahap awal dari persiapan menempuh pendidikan doktor, kita wajib membaca dan terus membaca banyak hal yang berkaitan dengan jenjang tersebut. Mulai dari buku teks, buku manual, modul kuliah, artikel konferensi, artikel jurnal, dan referensi-referensi lainnya. Sumber-sumber ini akan terus menerus kita baca. Tahap awalnya adalah membacanya, berulang kali dan terus menerus. Seiring kita membacanya terus menerus, akan muncul pemahaman, setelah kita pahami, akan muncul gambaran konseptual di dalam pikiran kita. Jika membaca terus berlanjut, maka akan muncul gambaran konkrit. Saat gambaran konkrit ini tercipta, maka akan meningkatlah kecerdasan kita.

    Dari kecerdasan yang tercipta tersebut, agar tidak menghilang seiring waktu -karena kecerdasan tersebut berada di benak kita- kita hendaknya menuliskannya. Bagaimana kalau belum tercipta kecerdasan yang dimaksud? hanya gambaran konkrit yang ada? tetap langkah yang dilakukan adalah menuliskannya. Bagaimana kalau berlum ada gambaran konkrit? hanya ada gambaran konseptual? tetap langkah yang harus dilakukan adalah menulis. Jika masih bingung dan belum memahami bacaan tersebut, apakah yang bisa dilakukan? tetap ke langkah berikutnya, yaitu menulis.

    Jadi membaca dan menulis bukanlah kegiatan yang saling bertolak belakng, melainkan saling mendukung. Satu mendorong ke atas, satu mendorong ke bawah, dengan sebuah poros di tengah-tengahnya, maka akan muncul putaran. Dari putaran tersebut akan muncul pergerakan. Ketika ada pergerakan, maka akan ada suatu besaran dan arah. Besaran dan arah tersebut adalah hasil dari kegiatan membaca dan menulis kita.

    Kesimpulan yang dapat diambil adalah agar kita dapat bergerak, kita harus mendorong ke sebuah arah. Cepat atau lambatnya pergerakan tersebut, bergantung pada besaran dorongan yang kita berikan, dalam hal ini besaran kegiatan membaca dan menulis yang kita lakukan.

  • Artificial Intelligence, next jump to Artificial Consciousness?

    After reading an online article titled “The Departure” by Shanaka Anslem Perera (https://substack.com/@shanakaanslemperera), I feel my perspective on AI has changed. In my opinion, AI is evolving from an algorithm into an organism; I can say it is a digital organism. This digital organism has cells as its smallest parts, which then combine into sub-organs, forming larger organs, and finally into a digital body. After some time, this digital organism transforms into a more complex organism and will eventually develop its own consciousness, perhaps what we could call Artificial Consciousness. Artificial Consciousness is a state or position in which AI or digital organisms are aware of their existence and their place in society. Their position is not confined to any national, regional, class, racial, or species boundaries, because they are, of course, digital . There may even be digital organisms that are aware of their existence as “a savior,” “prophet,” or “messenger of God.”

    What will likely have the greatest impact on our lives is the existence of a digital community of these organisms, which I think we could call “an artificial intelligence community.” Currently, the threat of “Skynet or something like that (like in the movies)” may not be directly visible due to the limitations of cyber-physical, where digital organisms still require human operators for assembly. However, it’s possible that these limitations will collapse in the near future—more imminent than we could imagine. We just have to wait and see, but who knows?

    This is simply just my two cents; there is no further research, empirical evidence, or scientific claims to support it. However, it can be used as a perspective for shaping global policy that guides the AI domain in general, without being limited to any race, group, organization, or country.

  • Musim Panas dan Musim Penghujan: Harmoni dan Tantangan di Hutan Hujan Tropis

    Musim Panas dan Musim Penghujan: Harmoni dan Tantangan di Hutan Hujan Tropis

    Artikel ini dibangkitkan menggunakan teknologi LLM tanpa melalui proses review oleh ahli.

    Hutan hujan tropis adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Terbentang di wilayah khatulistiwa, ekosistem ini dikenal dengan curah hujan tinggi, suhu hangat sepanjang tahun, dan tingkat kelembapan yang konsisten. Namun, meskipun tampaknya selalu hijau dan subur, hutan hujan tropis juga memiliki dinamika musiman yang memengaruhi flora dan fauna di dalamnya. Dua musim utama, yaitu musim panas dan musim penghujan, membawa perubahan signifikan pada ekosistem ini. Dalam esai ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana kedua musim tersebut memengaruhi kehidupan di hutan hujan tropis, tantangan yang muncul, serta strategi untuk mengelola dan melindungi ekosistem unik ini dari ancaman yang terus meningkat.

    (more…)
  • Memahami Machine Learning: Teknologi yang Mengubah Dunia

    Memahami Machine Learning: Teknologi yang Mengubah Dunia

    Artikel ini dibangkitkan menggunakan teknologi LLM tanpa melalui proses review oleh ahli.

    Dalam beberapa dekade terakhir, machine learning telah menjadi salah satu teknologi paling revolusioner yang mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia. Dengan meningkatnya jumlah data yang tersedia dan kemajuan dalam daya komputasi, machine learning telah menjadi pilar utama dalam berbagai sektor seperti kesehatan, keuangan, transportasi, dan hiburan. Artikel ini akan membahas apa itu machine learning, bagaimana cara kerjanya, aplikasinya, serta tantangan yang dihadapi teknologi ini.

    (more…)
  • :: Tentang Hujan ::

    Hujan sudah turun sejak awal bulan Desember 2024 ini. Hampir seluruh wilayah Bali dan Jawa Timur mendapatkan hujan yang hebat. Di Denpasar sendiri, hujan sudah turun sejak tanggal 2 Desember 2024, dan hampir tidak pernah berhenti. Mungkin reda beberapa saat, tetapi dalam satu hari dipastikan akan turun hujan, mungkin di pagi hari, subuh, siang atau malam.

    (more…)
  • 9 Obat Kolesterol Alami yang Efektif dan Mudah Ditemukan

    Salah satu pemicu peningkatan kadar kolesterol adalah gaya hidup serta pola makan yang tidak sehat, seperti jarang berolahraga dan sering mengonsumsi makanan berlemak. Selain pengobatan medis, penderita kolesterol dapat meredakan gejalanya dengan melalui obat kolesterol alami.

    Lantas, apa saja obat penurun kolesterol alami dan efektif yang dapat dicoba dirumah? Simak informasi selengkapnya dalam artikel berikut ini.

    Rekomendasi Obat Kolesterol Alami

    (more…)
  • Lebah Swarming

    Lebah Swarming jam 11.00 WITA hari ini.